Kesehatan

Moms, Gangguan Penglihatan Pada Anak Pengaruhi Kinerja Otak Loh !

Primaberita.com – Moms terus pantau kesehatan si anak, gangguan penglihatan pada anak dapat pengaruhi kinerja otak si anak loh moms. Ambliopia, atau yang juga dikenal dengan istilah lazy eyes, adalah gangguan mata berupa penurunan tajam penglihatan yang lazim dialami oleh anak-anak.

Dalam kondisi normal di usia 4 tahun, perkembangan bagian otak yang memproses penglihatan hampir lengkap, tetapi tidak pada pengidap ambliopia. Pada pengidap ambliopia, otak tidak menerima bayangan yang jelas dari salah satu atau kedua mata.

Dikutip dari situs resmi Jakarta Eye Center, terdapat empat penyebab utama ambliopia, yakni kelainan refraksi (hiperopia, miopia, dan astigmatisma), perbedaan yang besar kekuatan refraksi antara mata kanan dan kiri, mata juling, serta hambatan masuknya cahaya ke dalam mata (antara lain seperti kelopak mata jatuh/ptosis, katarak, kekeruhan kornea, atau sebab lainnya.)

Bermula dari penglihatan, kondisi ini tidak dapat dianggap remeh.

Sebuah penelitian gabungan dari University of Waterloo, University of British Columbia, dan University of Auckland menemukan adanya pengaruh gangguan ambliopia terhadap kemampuan kinerja otak anak.

Dalam penelitian ini, sejumlah partisipan yang beberapa di antaranya mengidap ambliopia, diminta untuk mengikuti pergerakan titik di layar komputer. Titik ini akan bergerak di atas titik-titik lain yang bertugas mengganggu konsentrasi para partisipan eksperimen.

Pada para partisipan eksperimen yang memiliki mata normal, mata mereka mampu mengikuti pergerakan titik dengan baik, tanpa terganggu titik-titik lain yang menjadi latar gambar. Sedangkan pada pengidap ambliopia, mereka kesulitan untuk mengikuti pergerakan titik, karena titik yang bergerak hanya dapat terlihat oleh mata yang lebih lemah.

“Salah satu alasan mengapa pengidap ambliopia memiliki kualitas penglihatan yang buruk ialah otaknya kesulitan untuk menekan kinerja mata,” ungkap Amy Chow, pimpinan eksperimen dari School of Optometry and Vision Science, University of Waterloo.

Seperti dilansir situs resmi University of Waterloo, Chow menambahkan,

“Mata yang lebih lemah dapat terbuka dengan baik, memiliki retina yang sehat, dan mampu mengirimkan informasi ke dalam otak, tetapi informasi ini tidak dapat mencapai bagian otak yang mengatur kesadaran.”

Chow menyebutkan, kondisi ini harus segera ditangani, karena jika berlangsung dalam jangka panjang, mampu mengubah kinerja otak menjadi sulit berkonsentrasi dengan hal-hal lain. Terlebih jika kondisi ini terjadi pada anak, orangtua perlu menanganinya sejak dini.

Pentingnya deteksi dini

Pada kesempatan diskusi Suhardjo menegaskan bahwa deteksi dini dan penanganan yang tepat menjadi salah satu cara mencegah berlanjutnya gangguan mata, Deteksi dini seharusnya dilakukan sejak anak sebelum berusia 6 tahun.

Terus jaga kesehatan mata ya sobat Prima, apalagi kesehatan mata. Kata pepatah, tanpa mata kita hampa loh. hehehe… makannya jaga terus kesehatan mata kita ya sobat. Semoga bermanfaat untuk sobat Prima semua ya ! Kalau ada kritikan dan saran, boleh comment di bawah ya 😀 Biar kita sama-sama saling berbagi nih sobat Prima. hihihihi… 😀

Nuwun… :$

Tinggalkan Balasan