Teknologi

Mark Zuckerberg dan Perlindungan Data Pengguna Facebook

Primaberita.com – Belakangan, sosial media terbesar di dunia, Facebook, tengah mendapat sorotan dari seluruh dunia. Kali ini bukan karena jumlah pengguna aktif bulanannya yang mencapai angka miliaran pengguna, tetapi terkait dengan pencurian data para pengguna Facebook yang diyakini dilakukan oleh pihak ketiga, Cambridge Analytica.

Tak butuh waktu lama bagi seantero global untuk bereaksi, terutama pemerintah dari berbagai negara. Hal ini karena isu-isu semacam pencurian data pengguna adalah hal yang sensitif dan bagi beberapa negara termasuk dalam ancaman kedaulatan negara, seperti halnya negara kita Indonesia.

Bayangan jika ada seseorang yang terang-terangan mencuri data Andadan Anda sama sekali tidak mengetahuinya. Lebih parahnya lagi, sang terduga pelaku, Cambridge Analytica diduga melakukan tindakan pencurian ini untuk memenangkan salah satu kandidat presiden dalam ajang pemilihan umum presiden di Amerika Serikat beberapa waktu lalu.

Terkait dengan insiden ini, baru-baru ini sang pendiri dan bos Facebook, Mark Zuckerberg memenuhi panggilan dari kongres Amerika Serikat. Dalam kesempatan tersebut, sembari mengonfirmasi kronologi kejadian yang sesungguhnya, ia sekaligus membantah teori konspirasi yang berkembang luas belakangan ini.

Teori tersebut mengatakan bahwa jejaring sosial media semacam Facebook memiliki sistem tersendiri yang memungkinkan mereka untuk menyadap pembicaraan para penggunanya. Dalam keterangan yang disampaikannya di hadapan kongres Amerika Serikat baru-baru ini, Zuckerberg menyampaikan pernyataan resminya ketika ditanya oleh Senator Gary Peters perihal kemungkinan sosial media yang dipimpinnya menyadap pembicaraan yang dilakukan melalui ponsel para pengguna Facebook. Menurut sang senator, hal ini telah lama menjadi kekhawatiran pihaknya.

Zuckerberg pun serta merta menyangkal dan mengatakan bahwa hal ini tidak pernah dan tidak akan terjadi sepanjang Facebook masih ada. Meski begitu, sang senator tak lantas mempercayai ungkapan sang triliuner tersebut. Ia menyatakan bahwa, terlepas dari fakta yang disampaikan pihak Facebook, beredarnya anggapan yang salah tentang ‘penyadapan’ yang dilakukan Facebook membuktikan bahwa betapa rendahnya kepercayaan pengguna terhadap Facebook dalam hal perlindungan data pribadi dan masih rendahnya kualitas tindakan yang dilakukan Facebook untuk menjamin kerahasiaan data penggunanya.

“Saya pikir layak dikatakan bahwa Facebook mulai kehilangan kepercayaan dari banyak penduduk Amerika usai insiden ini,” ujar sang senator usai menyampaikan kekhawatiran konstituennya terkait penyadapan data melalui ponsel yang diduga dilakukan jejaring sosial media ini terkait skandal Cambridge Analytica.

Sang senator mungkin ada benarnya. Kekhawatiran tentang penyadapan data yang dilakukan pihak Facebook sebenarnya bukanlah hal yang baru. Faktanya, pada 2016 lalu, Facebook secara tegas menyatakan bahwa pihaknya tidak menggunakan mikrofon yang tersemat pada ponsel pengguna untuk memberitahukan adanya iklan atau kisah-kisah terbaru di bagian lini masa pengguna.

Dua tahun telah berlalu dan isu ini masih kembali muncul lagi dan lagi. Salah satu media, The Wall Street Journal, bahkan sempat membuat video terkait teori konspirasi ini sekitar bulan lalu. Sayangnya, masih belum ada pernyataan jelas yang menampik setiap isu yang ditampilkan pada video yang sempat beredar luas ini.

Mungkin hal ini dikarenakan masih banyaknya orang yang tidak percaya bahwa insiden semacam Cambridge Analytica bisa terjadi. Masih banyak pihak yang percaya bahwa tidak mungkin sosial media sebesar Facebook terkena insiden semacam ini. Lebih parahnya, masih banyak di antara kita yang masih menelan bulat-bulat fakta bahwa semua data kita aman di internet. Disinilah kesalahan terbesar kita. Dengan begitu masifnya basis data pengguna Facebook, kita tidak menyadari bahwa Facebook telah berkembang menjadi salah satu platform pengumpul data pribadi terbesar di muka bumi ini dan mungkin saja di sepanjang sejarah.

Atas alasan ini pulalah, sang senator memanfaatkan kesempatan pemanggilan ini untuk mengklarifikasi dugaan ini langsung kepada sang pendiri dan pemilik jejaring sosial media terbesar di dunia, Mark Zuckerberg.

Dalam salah satu pertanyaannya, sang senator mengungkapkan bahwa kesan pencurian data pengguna oleh Facebook muncul setelah beberapa pengguna melaporkan bahwa, ketika mereka sedang berkirim pesan atau berbicara lewat panggilan audio/video di Facebook, tiba-tiba muncul iklan. Tak ayal, banyak di antara mereka yang mengalami hal ini beranggapan bahwa Facebook menyadap pembicaraan yang mereka lakukan lewat perangkat ponsel untuk keperluan pemasaran dan iklan. Hal ini memiliki dampak yang serius, ujar sang senator, dan berarti kurangnya kepercayaan yang dimiliki pengguna Facebook terhadap jejaring sosial media tersebut.

Ia pun langsung meminta penjelasan dari Zuckerberg terkait hal ini.

“Ya atau tidak: Apakah facebook menggunakan berkas audio yang diambil dari perangkat ponsel untuk memperoleh informasi pribadi dari pengguna yang bersangkutan?” tanya sang senator.

Menanggapi hal ini, Zuckerberg sigap menjawab, “Tidak.”

Lebih lanjut, sang pemimpin perusahaan sosial media tersebut mengatakan bahwa jawaban ‘Tidak’ yang diberikannya merujuk kepada teori konspirasi yang belakangan beredar luas di masyarakat. Di sisi yang lain, ia tidak menampik bahwa sosial media yang dipimpinnya memungkinkan pengguna untuk merekam video, yang tentu saja memiliki komponen audio. Tak ayal pernyataan ambigu ini memunculkan kekhawatiran lebih lanjut perihal adanya kemungkinan Facebook menganggap tindakan ini sebagai izin langsung dari setiap pengguna yang sedang mengobrol via Facebook untuk mengumpulkan rekaman audio yang dimaksud dan memberikan kebebasan bagi Facebook untuk menyimpan dan membagikannya.

Sayangnya, setelah mendengar pernyataan Zuckerberg, sang senator tidak lebih lanjut menanyakan hal ini dan malah berujar, “Semoga pernyataan ini mampu menepis rumor-rumor yang belakangan saya dengar.”

Jadi ya, jika boleh jujur, kami sendiri pun belum puas jika hal ini masih belum diulas secara mendalam.

Terkait hal ini, beberapa sumber mengatakan bahwa mungkin ada sedikit batasan teknis yang diterapkan terkait teknik-teknik semacam ini. Namun, hal ini tidak memungkiri bahwa sistem yang serupa dapat diterapkan untuk mencari tahu lebih lanjut tentang praktik ini. Tetapi, masih ada beberapa orang yang berkeyakinan bahwa hal semacam ini benar-benar terjadi hanya karena mereka percaya hal ini terjadi. Dengan kata lain, semua bergantung pada kepercayaan pribadi mereka dan bukan data yang sebenarnya.

Pada akhirnya, teori yang sudah terlanjur berkembang setidaknya memberikan kita gambaran betapa buruknya perlindungan data pribadi pengguna yang diterapkan oleh Facebook. Siapa saja bisa mencuri data siapa saja dan dengan santainya mengatakan bahwa tidak ada apapun yang terjadi, meski mereka sudah memegang semua informasi yang mereka butuhkan.

Bagi Facebook, kejadian semacam ini mungkin hanya sebatas insiden yang harus mereka atasi. Namun, bagi para pengguna, insiden semacam ini bisa berujung pada hal-hal yang jauh lebih berbahaya, termasuk berujung pada berbagai tindakan kriminalitas. Itulah sebabnya, pemerintah dan DPR bersikeras menuntut jawaban dari Facebook. Bahkan Menkominfo mengatakan bahwa pihaknya tak segan akan memblokir Facebook jika mereka tidak menyediakan solusi yang pasti.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan