Hiburan Nasional

Tokoh Perfilman Indonesia Usmar Ismail Jadi Tema Google Doodle Hari Ini

Primaberita.com – Tepat hari ini 20 Maret 2018, Google menampilkan tokoh Indonesia yang berjasa besar di bidang perfilman Tanah Air yakni Usmar Ismail sebagai tema Google Doodle. Lahir pada 20 Maret tepat 97 yang lalu, Usmar Ismail sangat terkenal pada era tahun 1950-an dan 1960-an.

Karena karya dan kerja kerasnya, ia dianggap sebagai salah seorang yang telah menabur benih untuk pertumbuhan teater dan film di Indonesia. Studio filmnya miliknya, Perfini, menghasilkan beberapa karya film klasik Indonesia yang sangat dikenang masyarakat film negeri ini.

Di sepanjang kariernya, sudah menggarap lebih dari 30 film di Tanah Air. Beberapa karyanya yang begitu fenomenal di jagat sinema lokal adalah film dengan judul Darah dan Doa (The Long March of Siliwangi, 1950), Pedjuang (1960) dan Enam Djam di Djogdja (1951).

Ismar Ismail sendiri adalah pria kelahiran Bukittinggi Sumatera Barat, 20 Maret 1921. Ia wafat pada umur 49 tahun di Jakarta, tepatnya pada 2 Januari 1971. Ia meraih fgelar BA (bachelor of arts) di bidang sinematografi dari Universitas California, Los Angeles, Amerika Serikat pada tahun 1952.

Namun sebelum belajar ke Amerika ia juga pernah bersekolah di HIS, MULO-B, AMS-A II Yogyakarta. Ketika masa pendudukan Jepang, usmar bergabung ke Pusat Kebudayaan. Di saat itu, ia mendirikan klub Sandiwara Penggemar Maya dengan beberapa tokoh seni, seperti El Hakim, Rosihan Anwar, Cornel Simanjuntak, Sudjojono, H.B. Jassin dan masih banyak lagi.

Semasa kariernya, Usmar juga sempat mendapatkan penghargaan bergengsi Piala Citra. Filmnya berjudul Djam Malam dan Tamu Agung (1955) juga mendapatkan penghargaan Film Komedi Terbaik. Dalam film Tamu Agung, Usmar menyampaikan kritik sosial dan politik dan ingin mengaitkannya dengan masyarakat.

Di film itu juga, Usmar ingin menyampaikan asas demokrasi soal kepentingan berbicara, berpikir, serta berpendapat. Selain pembuat film, Usmar Ismail juga pernah jadi wartawan. Ia tercatat menjadi pendiri dan redaktur Patriot, redaktur majalah Arena, Yogyakarta (1948). Ia bahkan pernah menjadi ketua Persatuan Wartawan Indonesia (1946-1947).

Bagikan:

Tinggalkan Balasan