Sebelum Meninggal Raditya Oloan Alami Badai Sitokin Pasca Covid-19, Apa Itu Badai Sitokin?

badai sitokin pengidap covid-19

PrimaBerita – Sampai saat ini penelitian mengenai covid-19 dan dampaknya masih ditelusuri lebih lanjut dan salah satu yang sedang hangat diperbincangkan adalah badai sitokin pada pengidap corona. Sindrom ini terjadi oleh karena peningkatan respons imun.

Sejatinya sistem kekebalan tubuh manusia berfungsi untuk membantu tubuh melawan infeksi. Akan tetapi kadang sistem imunitas tersebut memberikan respon yang tidak semestinya. Kasus lainnya justru memperparah kondisi penyakit.

Adapun berita tentang meninggalnya suami aktris Joanna Alexandra, Raditya Oloan memang cukup mengejutkan banyak pihak. Raditya disebut meninggal dunia diusia 36 tahun setelah sempat mengalami badai sitokin pasca terpapar covid-19. Selain itu Raditya ternyata punya penyakit asma dan ginjal yang kurang berfungsi dengan baik.

Fakta Tentang Badai Sitokin

Berdasarkan data dari American Cancer Society, sitokin pada dasarnya memberikan sinyal sistem kekebalan tubuh untuk melakukan tugasnya. Hal ini merupakan situasi yang wajar namun jika pelepasan sitokin terlampau banyak maka sistem kekebalan tubuh mulai menyebabkan kerusakan pada tubuh.

Secara medis, seperti lansiran Halodoc, badai sitokin berarti jalur sel yang telah dihidupkan mengarah kepada produksi sejumlah mediator biologis. Ini yang dapat menyebabkan perubahan pada tubuh serta bisa mengganggu fungsi sel normal.

Sejumlah besar sitokin yang terlepas menciptakan tingkat peradangan tinggi pada tubuh yang sedang mengalami peradangan. Alhasil kondisi ini berakibat fatal. Bukan hanya itu badai sitokin ini bahkan bisa lebih mematikan daripada virus asli yang sedang bercengkrama dalam tubuh.

Pemicu Badai Sitokin

Pemicu badai sitokin bisa karena sejumlah infeksi, termasuk influenza dan pneumonia. Untuk pengidap virus corona, sejauh ini beberapa pasien menjadi sangat sakit dengan cepat karena kemunculan badai sitokin. Sebagian besar pengidapnya mengalami demam, sesak nafas, kemudian menjadi kesulitan dalam bernafas sehingga pada akhirnya harus menggunakan bantuan alat berupa ventilator. Sumber menyebut bahwa biasanya hal seperti ini terjadi sekitar 6 atau 7 hari usai munculnya penyakit.

Selain itu badai sitokin merupakan komplikasi umum yang sebenarnya tidak hanya terjadi kepada penderita virus corona saja, tetapi juga bisa kepada pengidap flu maupun penyakit pernafasan lainnya. Situasi badai sitokin ini juga erat kaitannya dengan penyakit non-infeksi, misalnya pankreatitis.

Add a Comment