Ini Penyebab Ibu Meninggal Dunia Setelah Melahirkan

penyebab meninggal setelah melahirkan

PrimaBerita – Setiap keluarga tentu ingin ibu dan bayinya selamat setelah proses persalinan berlangsung. Namun pada beberapa kasus, terkadang ibu dapat mengalami kondisi kritis selama masa persalinan yang bisa membuat meninggal dunia. Ada beberapa penyebab seorang ibu meninggal dunia setelah melahirkan yag umum terjadi.

Banyak hal terkait kehamilan maupun penanganannya yang membuat meninggal dunia. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, penyebab terbesar kematian ibu tahun 2010-2013 adalah perdarahan. Kemudian, ada juga penyebab lain seperti tekanan darah tinggi, infeksi, penyakit jantung, tuberkulosis, dan lainnya.

Berikut ini merupakan penyebab ibu meninggal dunia setelah melahirkan yang paling umum terjadi.

Perdarahan berat (hemoragik)

Perdarahan umum terjadi saat persalinan,  ini bisa semakin parah dan bahkan bisa menyebabkan ibu meninggal setelah melahirkan jika penanganannya tidak baik. Hal ini bisa terjadi saat Anda memilih untuk melahirkan dengan cara normal maupun caesar.

Hal ini terjadi karena vagina atau leher rahim robek. Perdarahan juga bisa terjadi saat rahim tidak berkontraksi setelah melahirkan. Namun, biasanya penyebab perdarahan berat terjadi karena masalah plasenta selama kehamilan, seperti abrupsio plasenta. Abrupsio plasenta adalah kondisi di mana plasenta terpisah dari rahim sebelum waktu kelahiran.

Infeksi

Infeksi bisa terjadi jika ada bakteri masuk ke tubuh ibu hamil dan tubuhnya tidak bisa melawan. Ibu hamil yang terinfeksi kelompok bakteri Streptokokus B dapat mengalami sepsis (infeksi darah).

Sepsis ini kemudian dapat menyerang sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan masalah yang parah sampai kematian. Terkadang, sepsis bisa menyebabkan penggumpalan darah pada ibu hamil, sehingga menghalangi aliran darah ke organ penting ibu, seperti otak dan jantung. Hal ini kemudian dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ dan bahkan kematian.

Preeklampsia

Preeklampsia biasanya timbul saat ibu hamil memiliki tekanan darah tinggi selama kehamilan, terjadi setelah minggu ke-20 kehamilan. Hal ini bisa anda obati namun juga bisa menjadi parah dan menyebabkan plasenta terpisah, kejang, atau sindrom HELLP.

Ibu dengan sindrom HELLP dapat mengalami kerusakan hati yang berjalan dengan cepat. Tanpa perawatan yang baik, preeklampsia juga bisa menyebabkan kematian ibu setelah persalinan.

Emboli paru

Emboli paru adalah gumpalan darah yang menghalangi pembuluh darah pada paru-paru. Hal ini biasanya terjadi ketika gumpalan darah yang ada di kaki atau paha (disebut dengan deep vein thrombosis (DVT)) pecah dan mengalir ke paru-paru.

Hal ini dapat menyebabkan kadar oksigen dalam darah menjadi rendah, sehingga biasanya gejala yang muncul adalah sesak napas dan nyeri dada. Organ tubuh yang tidak mendapatkan cukup oksigen dapat mengalami kerusakan, dan hal ini kemudian bisa menyebabkan kematian pada ibu setelah melahirkan.

Untuk mencegah emboli paru dan DVT, ada baiknya Anda bangun dan berjalan sesegera mungkin setelah melahirkan. Sehingga, darah bisa mengalir dengan lancar dan gumpalan darah tidak terjadi.

Kardiomiopati

Selama kehamilan, fungsi jantung wanita mengalami perubahan yang cukup banyak. Hal ini membuat ibu hamil yang memiliki penyakit jantung berisiko tinggi untuk mengalami kematian. Salah satu penyakit pada jantung yang dapat menyebabkan kematian ibu hamil adalah kardiomiopati.

Kardiomiopati adalah penyakit otot jantung yang membuat jantung lebih besar, lebih tebal, atau lebih kaku. Penyakit ini bisa membuat jantung lemah, sehingga tidak bisa memompa darah dengan baik. Pada akhirnya, kardiomiopati bisa menyebabkan masalah, seperti gagal jantung atau penumpukan cairan di paru-paru. Kondisi ini bisa menyebabkan ibu meninggal setelah melahirkan.

Add a Comment