Pengambilan Paksa Jenazah Pasien Covid-19, Anggota DPRD Ini Terancam 7 Tahun Bui

Pengambilan Paksa Jenazah Pasien Covid-19

PrimaBerita – Kasus pengambilan paksa jenazah terkait pasien covid-19 bukanlah kali pertama terjadi di Indonesia. Kali ini polisi telah menetapkan 2 orang sebagai tersangka dalam kasus pengambilan paksa mayat PDP dan juga pasien positif virus corona di RSUD Daya, Makassar, Sulawesi Selatan.

Kabis Humas Polda Sulawesi Selatan, Ibrahim Tompo mengungkapkan inisial kedua tersangka tersebut adalah AHI serta AN.

“Penetapan tersangka pada hari jumat 10 juli 2020, setelah dilaksanakan gelar perkara,” imbuh Ibrahim lewat keterangannya, selasa, 14 juli.

Lihat Juga: 10 Negara Dengan Kasus Tertinggi Covid-19 di Asia, Indonesia Termasuk

Menurutnya, penyidik saat ini sedang merampungkan berkas perkara 2 orang tersangka yang telah dikenakan pasal 214, 335, dan 336 KUHP. Serta pasal 93 UU No 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

“Ancaman hukuman sampai 7 tahun penjara,” ungkap Ibrahim Tompo.

Sebelumnya, kasus pengambilan paksa jenazah pasien covid-19 terjadi di RSUD Daya, Makassar, Sulsel pada 27 juni yang lalu. Setelah diambil oleh pihak keluarga, pemulasarannya pun tidak sesuai dengan protokol pencegahan virus corona.

Seorang yang telah dinyatakan sebagai tersangka adalah salah satu anggota DPRD Makassar, Andi Hadi Ibrahim. Dimana Andi bertindak sebagai penjamin pengambilan mayat pasien covid-19 yang beridentitas CR (49), warga kecamatan Biringkanaya, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Jasad tersebut awalnya merupakan Pasien Dalam Pengawasan. Kemudian lewat hasil pemeriksaan swab, CR dinyatakan terindikasi covid-19.

“Tersangkanya oknum anggota DPRD Makassar itu (Andi Hadi Ibrahim Baso). Tetapi dia bukan tersangka tunggal, ada satu lagi tersangka atas nama Andi Nur Rahmat,” pungkas Kompol Agus, Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, senin malam (13/07/2020).

Menurut Agus, Andi Nur Rahmat turut terlibat dalam pengambilan paksa jenazah korban virus corona yang semestinya tidak diperbolehkan. Karena jenazah berstatus sebagai PDP. Tersangka juga memesan ambulance.

“Jadi totalnya ada 13 orang saksi yang kita periksa sebelum penetapan tersangka. Salah satunya istri almarhum, CR. Kedua tersangka ini dijadwalkan pemeriksaan lagi atasnya pekan ini,” cetus Agus.

Add a Comment