Sosial Media Dapat Pengaruhi Kesehatan Mental & Tubuh Secara Negatif

Primaberita.com – Kehadiran sosial media membuat orang semakin terhubung satu dengan yang lainnya termasuk kesehatan mental dan kesehatan tubuh kita loh sobat Prima, lebih hati-hati lagi deh ya sobat… Apalagi, orang memiliki kecenderungan senang berbagi. Padahal, mendokumentasikan setiap langkah di media sosial dapat memberi efek buruk bagi kesehatan mental. Menurut Independent, rata-rata warga Inggris mengecek ponsel mereka 28 kali tiap harinya. Walau media sosial memiliki banyak manfaat, terlalu sering menggunakan justru dapat membuat orang tidak bahagia dan terisolasi dalam jangka panjang.

Dan tanpa disadari, musuh terbesar bagi diri Anda bukanlah orang lain, tetapi diri Anda sendiri. Pikiran dan kebiasaan Anda, meskipun sering kali disepelekan, dapat memengaruhi suasana hati dan mengganggu kesehatan mental Anda. Sama seperti kesehatan tubuh, gangguan mental juga akan menyebabkan gejala-gejala yang akhirnya menghambat aktivitas Anda sehari-hari bila tidak segera ditangani.

Berikut adalah beberapa kebiasaan yang bisa mengganggu kesehatan mental akibat Sosial Media

1. Membuat Orang Menjadi Merasa Tak Percaya Diri

Saat melihat foto orang lain yang sering kali terlihat sempurna, orang cenderung membandingkan dengan diri sendiri sehingga hal itu dapat mempengaruhi rasa percaya diri seseorang. Sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Kopenhagen mendapati banyak orang menderita dari apa yang disebut “Kecemburuan Facebook” sebagai efek orang yang cemburu melihat aktivitas teman-teman di media sosial mereka.

“Saat seseorang merasa lebih berdasarkan pada perbandingan-perbandingan terhadap orang lain, variabel kebahagiaannya akan berada di luar kendali dan cepat rapuh,” terang Dr Tim Bono, penulis buku When Likes Aren’t Enough, kepada Healthista.

2. Hubungan langsung dengan sekeliling terputus

Sulit untuk berhubungan dan melakukan interaksi secara pribadi ketika orang terpaku pada layar ponsel dan lebih akrab dengan teman-teman digitalnya. Hubungan pribadi antara sesama pun terputus. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Epidemiology mendapati penggunaan Facebook secara reguler berdampak negatif pada ketenangan jiwa seseorang.

“Berdasarkan pengalaman pribadi, saya kerap dilanda FOMO (Fear of missing out) setiap kali saya melihat foto teman yang menghadiri pesta dan saya tidak hadir di situ. Itu membuat saya merasa kesepian dan cemas,” terang Stina Sanders, mantan model dengan 107 ribu pengikut Instagram kepada The Independent.

3. Distorsi ingatan

Media sosial dapat menjadi pengingat kembali kenangan dan bagaimana peristiwa di masa lalu berlangsung. Namun, itu juga dapat mengubah cara orang mengingat detail tertentu. Saat berada pada momen, orang lebih sibuk memikirkan bagaimana mengambil gambar bagus daripada menyerap dan menikmati suasana sekeliling. “Terlalu sibuk memotret akan mengurangi orang menikmati aspek lain sebuah pengalaman secara langsung,” terang Dr Bono.

4. Kehilangan waktu tidur yang cukup

Yang sering terjadi adalah orang lebih suka bermain dengan ponsel mereka sebelum tidur. Tujuannya biasanya agar bisa cepat tidur. Namun, yang sering terjadi justru sebaliknya. Menurut Dr Bono, semakin orang memantengi media sosial orang lain, otak tidak beristirahat, malah semakin waspada. Kondisi inilah yang akan mencegah orang bisa cepat tidur. Tidur adalah cara tubuh melakukan regenerasi. Karena itu, kurang tidur tidak hanya membuat Anda mudah mengantuk, tetapi juga dapat mengacaukan kinerja sistem tubuh. Ini tentu akan mengganggu kesehatan mental Anda. Sejumlah penelitian telah membuktikan kaitan kurang tidur dengan berbagai jenis gangguan mental seperti depresi, bipolar disorder, dan ADHD. “Selain itu, terang dari ponsel yang begitu dekat dengan wajah akan menekan pelepasan melatonin, hormon yang membantu orang merasa lelah,” ujar Dr Bono.

Biasakan diri Anda untuk tidur 8 jam sehari. Atau jika Anda mengalami gangguan tidur, segera periksa ke dokter agar mengetahui penyebab dan cara mengatasinya.

5. Menurunnya daya konsentrasi

Bukan hanya otak bawah sadar yang perlu dikhawatirkan, tetapi juga sejauh mana otak dapat sepenuhnya berkonsentrasi. Terlalu sering memantengi media sosial, orang menjadi lebih mudah terganggu daya konsentrasinya.

6. Menciptakan masalah yang berkaitan kesehatan mental

 

Selain terbukti kerap membuat orang tidak bahagia, media sosial juga dapat menjadi penyebab masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi. Lebih dari sepertiga dari Generasi Z mengaku berhenti dari media sosial. Data ini didapat dari sebuah survei yang dilakukan Maret lalu di Inggris terhadap seribu partisipan. Sekitar 41% partisipan yang berhenti dari media sosial menyebutkan jika jejaring sosial membuat mereka merasa cemas, sedih, atau tertekan.

7. Memendam amarah

Jangan salah, memendam amarah juga bisa mengganggu kesehatan mental seseorang. Dalam jurnal Advances tahun 2017, para ahli di Inggris menemukan bahwa orang-orang yang tidak bisa meluapkan amarahnya secara sehat lebih rentan mengalami berbagai gejala depresi.

Karena itu, belajarlah untuk meluapkan emosi dan mengungkapkan rasa marah, kecewa, dan perasaan negatif lainnya dengan baik. Jangan hanya dipendam sendirian, apalagi kalau sampai mengganggu kesehatan mental Anda. Berceritalah pada orang-orang yang Anda percayai atau tuangkan perasaan Anda dalam buku harian.

8. Pesimis

Orang yang pesimis cenderung tidak mempunyai harapan baik dan mudah putus asa. Karena itu, pesimisme tidak hanya memengaruhi cara Anda memandang hidup, tetapi juga mengganggu kesehatan mental Anda. Hilang harapan dan rasa putus asa, jika dibiarkan berlarut-larut, bisa menjadi salah satu gejala gangguan mood, yaitu depresi.

Maka, belajarlah untuk berpikir positif. Kenali kelemahan dan kekuatan Anda, dan fokuslah pada kekuatan Anda tersebut. Jangan hanya berkutat pada kelemahan Anda atau situasi buruk yang sedang dihadapi.

9. Perfeksionis

Sikap perfeksionis cenderung membuat seseorang menginginkan semua hal sempurna, berjalan sesuai rencana, dan tanpa cacat cela. Standar yang sempurna ini tidak jarang membuat seseorang kecewa dan sedih, terlebih jika apa yang direncanakan tidak menjadi nyata. Bila tidak dikendalikan, Anda menjadi rentan terhadap gangguan kecemasan (anxiety disorder).

Tetapkan tujuan yang realistis, lebih dapat dicapai, dan hadapi kesalahan atau kegagalan sebagai bentuk pembelajaran. Jika Anda sudah mulai cemas, tenangkan diri Anda dengan teknik-teknik relaksasi, misalnya menarik napas panjang.

10. Pikiran obsesif

Obsesi adalah pikiran negatif yang muncul dan tidak terkendali serta berulang akan suatu kejadian masa lalu atau yang sedang dihadapi. Misalnya Anda terobsesi untuk selalu mengecek HP atau media sosial, tak mau ketinggalan informasi seremeh apa pun. Tidak pegang HP sebentar saja, dalam pikiran Anda sudah muncul hal-hal negatif seperti, “Bagaimana kalau tadi pasangan menelepon karena ada apa-apa?” atau, “Jangan-jangan daritadi ada klien yang menghubungi untuk menjadwalkan meeting penting?”.

Ini akan membuat tubuh dan otak Anda stres, membuat napas dan denyut jantung Anda meningkat cepat, dan tubuh akan melepaskan hormon stres adrenalin dan kortisol. Semua ini akan berdampak pada kesehatan fisik dan emosional Anda.

11. Rendah diri

Cara Anda menilai diri sendiri juga bisa mendukung atau justru mengganggu kesehatan mental Anda. Orang yang cenderung rendah diri, menilai dirinya serba kurang, membandingkan diri sendiri dengan orang lain, dan terlalu sering menyalahkan diri sendiri akan mudah stres dan depresi.

Lebih baik fokus pada apa yang Anda punya, maksimalkan potensi yang Anda miliki, buktikan pada diri sendiri kalau Anda punya segudang kemampuan, dan jangan terlalu memikirkan komentar orang lain tentang diri Anda.

12. Malas gerak

Studi yang dilakukan oleh para ahli dari University College London menemukan adanya hubungan antara aktivitas fisik dan depresi. Studi tersebut menyebutkan bahwa orang yang aktif cenderung tidak mengalami depresi, karena aktivitas fisik akan menurunkan risiko depresi.

Mulailah dengan aktivitas fisik sederhana. Misalnya berjalan keluar rumah, naik-turun tangga, bersepeda, atau aktivitas apa pun yang dapat membuat tubuh dan pikiran Anda senantiasa aktif.

13. Memendam amarah

Jangan salah, memendam amarah juga bisa mengganggu kesehatan mental seseorang. Dalam jurnal Advances tahun 2017, para ahli di Inggris menemukan bahwa orang-orang yang tidak bisa meluapkan amarahnya secara sehat lebih rentan mengalami berbagai gejala depresi.

Karena itu, belajarlah untuk meluapkan emosi dan mengungkapkan rasa marah, kecewa, dan perasaan negatif lainnya dengan baik. Jangan hanya dipendam sendirian, apalagi kalau sampai mengganggu kesehatan mental Anda. Berceritalah pada orang-orang yang Anda percayai atau tuangkan perasaan Anda dalam buku harian.

 

Semoga bermanfaat untuk sobat Prima semua ya ! Agar sobat Prima mampu mengendalikan waktunya biar lebih meminimalisir waktu bermain dengan gadget, supaya kesehatan mental dan fisik kita tetap sehat dan stabil. Kalau ada kritikan dan saran, boleh comment di bawah ya 😀 Biar kita sama-sama saling berbagi nih sobat Prima. hihihihi… 😀

Nuwun… :$

Add a Comment